Jumat, 07 November 2014

SINOPSIS NOVEL "NAYLA"





IDENTITAS BUKU 

Judul Buku      : NAYLA
Jenis Buku       : NOVEL
Genre              : Fiksi
Pengarang       : Djenar Maesa Ayu
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Kota Penerbit  : Jakarta
Tahun Terbit    : 2012
Tebal Halaman: 180 halaman

Novel “NAYLA” menceritakan tentang perjalanan hidup seorang perempuan dalam menghadapi apa yang ada disekitarnya yang berhubungan dengan dunia metropolitan,pergaulan bebas, dan seksualitas. Nayla Kinar adalah gadis muda yang akrab disapa Nayla tinggal bersama ibunya tanpa kehadiran ayah disampingnya. Ayah telah lama meninggalkan Nayla dan ibu sejak Nayla masih kecil. Kini Nayla berusia sebelas tahun. Ibunya sangat heran dengan tingkah Nayla yang setiap malam selalu mengompol. Hingga akhirnya ibu mulai geram terhadap kelakuan Nayla dan sampai menghukumnya dengan menusukkan peniti di selangkangan Nayla bahkan kini sampai ke vagina nya. Ibu melakukan itu dengan tujuan agar Nayla kapok dan tidak malas-malasan lagi untuk buang air kecil ke kamar mandi. Tetapi Nayla sendiri tidak mengerti harus bagaimana lagi, ia sudah berusaha untuk tidak malas-malasan. Hingga suatu hari, Nayla merasa sangat lelah dengan semua perlakuan ibunya, Nayla mencoba untuk mencari ayahnya agar bisa hidup dengan bahagia tanpa ada hukuman dari sang ibu. Di sekolah, Nayla mencoba untuk melarikan diri dari sekolah bersama teman-temannya untuk mencari alamat rumah ayahnya. Sesampainya di alamat tersebut, Nayla bertemu dengan seorang wanita cantik, ia adalah istri baru ayahnya. Ayah Nayla adalah seorang penulis terkenal sehingga Nayla tidak dapat bertemu dengan ayahnya dirumah tersebut. 
Nayla ikut tinggal dirumah ibu tiri bersama ayahnya. Keputusan tersebut membuat ibu marah besar karena Nayla telah memilih untuk tinggal bersama ayahnya daripada dengan ibu kandung yang selama ini telah membesarkannya. Dan akhirnya ibu berkeputusan untuk tidak mau lagi menerima Nayla kembali ke rumahnya. Tetapi setelah hampir dua bulan Nayla tinggal bersama ayah dan ibu tirinya, ayahnya mengalami sakit jantung dan meninggal. Selama seminggu terakhir setelah ayahnya meninggal, Nayla mengalami perubahan. Ia depresi berat mengapa ayahnya harus secepat itu meninggalkannya padahal baru sebentar ia merasakan tinggal bersama ayah kandungnya. Ia sering tertawa sendiri seperti orang gila. Nayla melakukan itu karena ia sangat kehilangan sosok ayahnya, ia tidak ingin terlihat menangis dan ia merasa menjadi gadis yang tegar maka dari itu ia berusaha untuk tertawa sepuasnya agar tidak teringat dengan ayahnya. Karena melihat kondisi Nayla seperti itu, ibu tirinya yang akrab dipanggil bu Ratu menjadi beranggapan bahwa Nayla menggunakan narkoba. Hingga akhirnya Nayla dibawa ke Rumah Perawatan Anak Nakal dan Narkotika. Nayla sangat terkejut dan bertanya-tanya mengapa bu Ratu membawanya ke tempat itu. Hari demi hari Nayla lalui ditempat tersebut dan ia bertemu dengan Bu Lina yang secara diam-diam memfasilitasi Nayla dengan alat-alat berupa kertas,pensil,bahkan membiarkan ia untuk menonton televisi. Suatu hari ia merasa sudah bosan berada ditempat itu lalu ia berinisiatif untuk melarikan diri dari tempat tersebut bersama teman-temannya. Ia berhasil dan setelah bebas ia bersama teman-temannya menginap ditempat salah satu temannya. Kehidupan Nayla sangat berubah dari yang awalnya Nayla adalah anak rumahan kini ia bersama teman-temannya sering menjelajahi dunia malam,bersenang-senang dipinggiran jalan bahkan ke diskotek. Suatu hari Nayla pergi ke diskotek untuk mencari ketenangan dan ia bertemu dengan salah satu pekerja di bar tersebut yaitu Juli. Ia adalah seorang perempuan tapi mempunya jiwa laki-laki. Dengan segala ketangguhan Juli, Nayla mulai menyukai apa yang ada pada diri Juli, begitupun Juli terhadap Nayla. Karena Nayla merasa nyaman dan terlindungi bila didekat Juli.
Suatu hari Nayla bersama teman-temannya mempunyai rencana untuk merampok sebuah taksi dan sopir taksi tersebut mulai curiga dengan tingkah Nayla dan teman-temannya hingga akhirnya sopir taksi itu membawa mereka ke kantor polisi. Nayla dan teman-temannya sempat didalam jeruji besi dan tidak lama mereka di tebus oleh ibu dari salah satu temannya. Mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing tapi tidak dengan Nayla. Ia terlantar di terminal, menyusuri jalan-jalan yang sepi, mengorek tong sampah untuk mencari sisa sisa makanan, hingga akhirnya ia diusir oleh seorang laki-laki tua yang bisa dibilang seorang pengemis karena Nayla telah menempati tempat laki-laki tersebut untuk tidur. Nayla pergi ke rumah Juli dan ia akhirnya ikut tinggal bersama Juli.
Nayla mempunyai pacar bernama Ben, hampir selama dua tahun mereka menjalin sebuah hubungan dan hingga akhirnya mereka putus karena keegoisannya dan Ben selingkuh dengan perempuan lain. Nayla sering menulis sebuah cerita dengan tema seputar seksualitas. Ia terkadang menceritakan tentang pengalaman pribadinya. Ia juga menceritakan tentang kekasih ibu kandungnya, Om Indra, memperkosanya tanpa sepengetahuan ibunya. Karena Nayla berpikiran jika ia menolak perlakuan Om Indra seorang laki-laki yang sangat ibu cintai maka ia akan menjadi anak yang tidak patuh terhadap ibunya, maka dari itu Nayla tetap diam saja saat Om Indra melakukan hubungan seks terhadapanya. Nayla tidak bisa menceritakan semua perlakuan Om indra kepada ibunya, karena ia takut jika ibu marah. Dengan cara menulis, ibu mulai memperhatikan cerita-cerita dan memahami semua curahan hati Nayla. Di dalam tulisan-tulisan yang Nayla tulis mengandung sebuah kritikan tentang laki-laki yang bersikap seperti binatang. Ia kesal atas apa yang telah dilakukan para lelaki untuk bisa menjamah,menjelajah dan menikmati tubuhnya begitu saja. Tulisan karya Nayla sering ditolak oleh majalah,koran,bahkan penerbit novel. Tetapi Nayla terus berusaha agar hasil karyanya tersebut bisa diterima untuk dijadikan sebuah novel. Hingga akhirnya Nayla mencoba menyerahkan ceritanya tersebut ke sebuah editor dan dimuat di koran. Kini Nayla mempunyai teman seorang seniman yang dulu pernah Nayla kagumi. Nayla menekuni dunia menulisnya yang lebih mengarah ke dunia seksualitas, karena menurutnya perempuan dan seksualitas itu penting untuk diperhatikan.

Sinopsis Novel "SAMAN"


IDENTITAS BUKU

JUDUL BUKU      : SAMAN
JENIS BUKU        : NOVEL
GENRE                  : FIKSI
PENGARANG       : AYU UTAMI
PENERBIT             : KPG (KEPUSTAKAAN POPULER GRAMEDIA)
TAHUN TERBIT                    : CETAKAN KE-1 APRIL 1998
KOTA PENERBIT                 : JAKARTA
TEBAL HALAMAN               : 206 HALAMAN

Wisanggeni boleh dikatakan beruntung.Karena dia adalah satu-satunya anak bapak ibunya yang berhasil hidup.Dua adiknya bahkan belum sempat dilahirkan ibunya karena secara tiba-tiba janinnya menghilang dari perut ibunya.Sedangkan adiknya yang ketiga meninggal dihari ketiga setelah dilahirkan. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya saat itu, tidak ada satupun keluarga yang mengerti. Tapi Wis kecil merasakan sesuatu yang tidak dapat diceritakannya kepada orang lain mengenai kejadian itu. Sampai kepindahannya ke Jakarta.
Athanasius Wisanggeni. Resmi menjadi pater dan sejak saat itu dia lebih sering dipanggil romo Wis. Berkat status barunya ini, dia mempuyai kesempatan untuk kembali ke kota masa kecilnya dulu, Perabumulih. Dia meminta bantuan kepada romo Daru untuk membantunya agar pihak gereja mau mengirimnya ke kota tersebut. Dia selalu merasa mempunyai ikatan dengan tempat itu, selalu ada yang memanggilnya untuk kembali kesana.Apalagi sekarang ibunya sudah meninggal.Dia merasa perlu mengabarkan itu kepada mereka yang hilang pada masa kecilnya.
Akhirnya Wis kembali ke Perabumulih.Ditempuhnya perjalanan jauh Jakarta-Perabumulih demi mencari yang dulu pernah hilang.Dan kembali mengenang masa kecilnya.Sesampainya dikota kecil itu, dia mengunjungi rumahnya dulu. Ternyata rumah itu telah ditempati oleh orang lain. Sepasang suami istri yang sedang menanti kelahiran anak pertama mereka. Wis cemas dan menganjurkan mereka untuk pergi ke luar kota menjelang kelahiran si bayi. Dan dia diberi kepercayaan oleh sang suami untuk menjaga rumah itu selama mereka pergi.
Sampai pada suatu malam, saat dia hendak mengunci pintu, dia merasa ada sesuatu dibelakang tengkuknya.Dia mendengar tapi tidak dapat mengerti.Karena penasaran apakah itu adik-adiknya dia menoleh kebelakang.Tapi setelah dia menoleh, tidak ada apa-apa dibelakangnya.Kejadian ini persis ketika dia mendengar tangis adiknya yang telah hilang dan meninggal dulu.Apakah ini sesuatu yang dulu pernah hilang?Tidak ada yang tahu.Sampai dia melihat sosok perempuan diluar jendela yang berlari karena didekatinya.
Perempuan itu bernama Upi, dia gila. Dia biasa berkeliaran keliling kota. Hati Wis tertegun saat mengembalikan Upi kepada keluarganya. Ibu dan kedua kakaknya memasung Upi supaya dia tidak berkeliaran dan meresahkan warga. Hati Wis terpanggil untuk membantu perempuan gila ini, dia membuatkan rumah yang layak untuk Upi. Bahkan dia membantu semua petani karet di lokasi transmigrasi Sei Kumbang ini untuk mengoptimalkan hasil panen mereka.Mulai dari penanaman kembali pohon-pohon karet sampai membangun turbin uutuk pengairan.Wis bekerja begitu semangat, sampai suatu ketika dia tersesat didalam hutan dan seekor ular kobra siap mematuknya.Tapi dia merasa sesuatu terjadi dibelakang tengkuknya lagi, dan ular itupun pergi menjauhinya yang sudah setengan tak sadarkan diri.Apakah itu kalian adik-adikku?Tak ada yang tau.
Lokasi transmigrasi Sei Kumbang harus dijadikan kebun kelapa sawit.Kabar itu membuat Wis dan petani karet lainnya geram.Berbagai terror menimpa mereka karena mereka masih mempertahankan kebun karet mereka.Dirusaknya turbin air mereka dan beberapa pohon karet. Pemerkosaan terhadap Upi dan istri Anson (kakak kedua Upi) menjadi puncak amarah mereka. Perang sengit terjadi dalam beberapa saat saja.Karena setelah kepergian beberapa warga untuk menghajar hulubalang biadab itu Wis yang mengamankan perempuan dan anak-anak disebuah suaru ditangkap oleh oleh orang-orang perusahaan yang menangani kebun kelapa sawit. Seluruh rumah dibakar begitu juga dengan Upiyang belum sempat terevakuasi bersama perempuan dan anak-anak di surau.  Dan etah bagaimana nasib beberapa warga yang hendak menyerbu perusahaan itu tadi.
Wis disekap.Kaki dan tangannya diikat.Matanya ditutup.Dia dibawa ke sebuah penjara kecil didalam sebuah bangunan perusahaan.Dia ditelanjangi, dihajar habis-habisan.Sampai pada suatu malam, Wis mencim bau kayu terbakar.Ternyata bangunan tempat Wis dikurung telah dibakar.Wis mendengan suara Anson, seperti mendapat kekuatan yang tak terduga Wis berhasil keluar dari banguan yang telah terbakar tadi menuju tempat Anson berdiri.Sekali lagi Wis selamat.Dia bersama Anson pergi secara sembunyi-sembunyi menyelamatkan diri.Dan dua tahun kemudian Athananius Wisanggeni mengganti namanya menjadi Saman.
Wis benar-benar mengganti semua identitas asli dirinya.Sekarang dia menjadi orang baru yang bernama Saman.Yasmin, temannya semasa SMP dan satu-satunya perempuan yang bisa menggoda hatinya menyarankan agar Saman bersembunyi di luar negeri saja.Disana dia bisa membantu sebuah LSM.Dan tidak ada satupun yang dapat mengenalinya sebagai paster yang menjadi buronan.

Sunyi yang berbisik

Suara derit pintu mulai menembus gendang telingaku
Getar kasur pun semakin hilang dalam lamunanku
Raga ini seakan ingin terlepas dari
Liku..
Kaku..
Semu..
Alunan melodi yang perlahan menggapai tanganku
Kini mengajakku terbang ke langit sendu
Senja..
Kapan kau datang memelukku seperti pagi itu?
Aku merindukanmu yang slalu menghangatkanku
Kini kau perlahan melangkah pergi dari pelukanku
Hanya suara detak jantung yang menemani lukaku
Di pucuk pohon itu dedaunan melambaikan lembaran kearahku
Entah apa yang dikatakannya kepadaku
Aku tak tau..
            Di tengah gelapnya malam, bulan bersembunyi di awan kelabu
Malu menampakkan senyum kilau itu
Bintang pun tak ingin bersandar dipundakku
Lelah terhadap orang yang ku ijinkan mengisi relung hatiku
Tetapi enggan bersinggah dihatiku yang telah lama beku
Jam dinding pun semakin cepat menyapa sederet angka itu
Memutar jemarinya dan melenggang tanpa berharap menjadi lesu


dhesyarba (2014/11/05 00:01)

GALAU


Aku mulai menyapa bintang yang menari dengan riangnya
Aku sentuh lembut jari jemarinya
Dan ku sampaikan pesan lewat raut wajahku yang semakin muram
Bintang..
Lihatlah aku !
Pandangi setiap garis wajahku !
Apakah aku lesu atau bahkan kaku?
Entahlah..
Hujan pun kini tidak mampu menjelaskan betapa remuknya relung hati ini
Seakan akan perang telah dimulai
Membuat hati ini semakin berderup dengan kencangnya
Sakitkah?
Iya
Jawabku dengan nada yang bagaikan kerupuk sudah habis daya tahan tubuhnya
Aku pun tak mengerti harus menorehkannya dengan cara yang entah bagaimana
Tinta saja seakan akan tidak ingin lagi menorehkan semua diatas kertas kusut
Yang kini mulai merobekkan dirinya
Tangan ini enggan mengukir sajak sajak manis seperti cookies
Tuhan, angkatlah rasa ini
Biarkan aku merangkak perlahan menggapai bintang yang lain
Bisakah?
Entah sampai kapan.

Dhesyarba (2014/11/05 23:49)

Topeng


Sajak pagi ini melantunkan melodi
Melodi yang entah berbisik atau bernyanyi
Aku terkapar diantara dua hati
Mungkin wajah pagi ini berseri
Tapi akankah kalian tahu remuk hati ini?
Berpikirlah..
Sayatan untaian kata itu membekaskan perih
Sungguh sampai saat ini aku belum mampu mengerti
Mengapa aku selalu bersandiwara dibalik ini
Aku bersembunyi dibalik muka indah saat ini
Entah sampai kapan raga menjadi ragu untuk bersenandung kembali
Dibalik tirai itu, kini aku menitipkan langkahku yang semakin mati
Betapa letihnya aku terima semua yang pahit
Mata saja sudah enggan melihat deretan nyali
Yang semakin hari semakin ingin pergi
Dan takkan kembali..


Dhesyarba (2014/11/06 07:07)

Jiwa yang pergi


Selamat pagi jiwa yang mulai pergi
Aku biarkan pisau itu mengiris hati ini
Menemani pagiku yang tak pernah berarti
Raga ini semakin tak bernyali
Separuh jiwa kini terbang entah kemana
Mungkin ia yang pernah singgah mulai enggan
Enggan menerima raga yang cacat ini
Mengapa harus merenggang dan lepas
Bahkan perjlanan kita hampir sampai diujung perkara
Tapi seperti kapas yang terbang menari begitu saja
Kini tiada lagi raga dan jiwa yang menemani
Bosan, marah, benci?
Ah, itu sudah biasa
Hati ini sudah biasa diiris seperti manggis
Tanpa bercak merah yang mengalir
Tapi sangat pedih dan mematikan batin

Dhesyarba (2014/11/06 07:16)

KOSONG


Pena yang mengarahkanku kembali untuk menyentuh sekumpulan hasil olahan serbuk kayu yang mulai rentan dan menjadikannya sebagai tempat sebuah curahan hati bersenandung.
Dhesyarba (06/11/2014 07:30)