Jumat, 07 November 2014

SINOPSIS NOVEL "NAYLA"





IDENTITAS BUKU 

Judul Buku      : NAYLA
Jenis Buku       : NOVEL
Genre              : Fiksi
Pengarang       : Djenar Maesa Ayu
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Kota Penerbit  : Jakarta
Tahun Terbit    : 2012
Tebal Halaman: 180 halaman

Novel “NAYLA” menceritakan tentang perjalanan hidup seorang perempuan dalam menghadapi apa yang ada disekitarnya yang berhubungan dengan dunia metropolitan,pergaulan bebas, dan seksualitas. Nayla Kinar adalah gadis muda yang akrab disapa Nayla tinggal bersama ibunya tanpa kehadiran ayah disampingnya. Ayah telah lama meninggalkan Nayla dan ibu sejak Nayla masih kecil. Kini Nayla berusia sebelas tahun. Ibunya sangat heran dengan tingkah Nayla yang setiap malam selalu mengompol. Hingga akhirnya ibu mulai geram terhadap kelakuan Nayla dan sampai menghukumnya dengan menusukkan peniti di selangkangan Nayla bahkan kini sampai ke vagina nya. Ibu melakukan itu dengan tujuan agar Nayla kapok dan tidak malas-malasan lagi untuk buang air kecil ke kamar mandi. Tetapi Nayla sendiri tidak mengerti harus bagaimana lagi, ia sudah berusaha untuk tidak malas-malasan. Hingga suatu hari, Nayla merasa sangat lelah dengan semua perlakuan ibunya, Nayla mencoba untuk mencari ayahnya agar bisa hidup dengan bahagia tanpa ada hukuman dari sang ibu. Di sekolah, Nayla mencoba untuk melarikan diri dari sekolah bersama teman-temannya untuk mencari alamat rumah ayahnya. Sesampainya di alamat tersebut, Nayla bertemu dengan seorang wanita cantik, ia adalah istri baru ayahnya. Ayah Nayla adalah seorang penulis terkenal sehingga Nayla tidak dapat bertemu dengan ayahnya dirumah tersebut. 
Nayla ikut tinggal dirumah ibu tiri bersama ayahnya. Keputusan tersebut membuat ibu marah besar karena Nayla telah memilih untuk tinggal bersama ayahnya daripada dengan ibu kandung yang selama ini telah membesarkannya. Dan akhirnya ibu berkeputusan untuk tidak mau lagi menerima Nayla kembali ke rumahnya. Tetapi setelah hampir dua bulan Nayla tinggal bersama ayah dan ibu tirinya, ayahnya mengalami sakit jantung dan meninggal. Selama seminggu terakhir setelah ayahnya meninggal, Nayla mengalami perubahan. Ia depresi berat mengapa ayahnya harus secepat itu meninggalkannya padahal baru sebentar ia merasakan tinggal bersama ayah kandungnya. Ia sering tertawa sendiri seperti orang gila. Nayla melakukan itu karena ia sangat kehilangan sosok ayahnya, ia tidak ingin terlihat menangis dan ia merasa menjadi gadis yang tegar maka dari itu ia berusaha untuk tertawa sepuasnya agar tidak teringat dengan ayahnya. Karena melihat kondisi Nayla seperti itu, ibu tirinya yang akrab dipanggil bu Ratu menjadi beranggapan bahwa Nayla menggunakan narkoba. Hingga akhirnya Nayla dibawa ke Rumah Perawatan Anak Nakal dan Narkotika. Nayla sangat terkejut dan bertanya-tanya mengapa bu Ratu membawanya ke tempat itu. Hari demi hari Nayla lalui ditempat tersebut dan ia bertemu dengan Bu Lina yang secara diam-diam memfasilitasi Nayla dengan alat-alat berupa kertas,pensil,bahkan membiarkan ia untuk menonton televisi. Suatu hari ia merasa sudah bosan berada ditempat itu lalu ia berinisiatif untuk melarikan diri dari tempat tersebut bersama teman-temannya. Ia berhasil dan setelah bebas ia bersama teman-temannya menginap ditempat salah satu temannya. Kehidupan Nayla sangat berubah dari yang awalnya Nayla adalah anak rumahan kini ia bersama teman-temannya sering menjelajahi dunia malam,bersenang-senang dipinggiran jalan bahkan ke diskotek. Suatu hari Nayla pergi ke diskotek untuk mencari ketenangan dan ia bertemu dengan salah satu pekerja di bar tersebut yaitu Juli. Ia adalah seorang perempuan tapi mempunya jiwa laki-laki. Dengan segala ketangguhan Juli, Nayla mulai menyukai apa yang ada pada diri Juli, begitupun Juli terhadap Nayla. Karena Nayla merasa nyaman dan terlindungi bila didekat Juli.
Suatu hari Nayla bersama teman-temannya mempunyai rencana untuk merampok sebuah taksi dan sopir taksi tersebut mulai curiga dengan tingkah Nayla dan teman-temannya hingga akhirnya sopir taksi itu membawa mereka ke kantor polisi. Nayla dan teman-temannya sempat didalam jeruji besi dan tidak lama mereka di tebus oleh ibu dari salah satu temannya. Mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing tapi tidak dengan Nayla. Ia terlantar di terminal, menyusuri jalan-jalan yang sepi, mengorek tong sampah untuk mencari sisa sisa makanan, hingga akhirnya ia diusir oleh seorang laki-laki tua yang bisa dibilang seorang pengemis karena Nayla telah menempati tempat laki-laki tersebut untuk tidur. Nayla pergi ke rumah Juli dan ia akhirnya ikut tinggal bersama Juli.
Nayla mempunyai pacar bernama Ben, hampir selama dua tahun mereka menjalin sebuah hubungan dan hingga akhirnya mereka putus karena keegoisannya dan Ben selingkuh dengan perempuan lain. Nayla sering menulis sebuah cerita dengan tema seputar seksualitas. Ia terkadang menceritakan tentang pengalaman pribadinya. Ia juga menceritakan tentang kekasih ibu kandungnya, Om Indra, memperkosanya tanpa sepengetahuan ibunya. Karena Nayla berpikiran jika ia menolak perlakuan Om Indra seorang laki-laki yang sangat ibu cintai maka ia akan menjadi anak yang tidak patuh terhadap ibunya, maka dari itu Nayla tetap diam saja saat Om Indra melakukan hubungan seks terhadapanya. Nayla tidak bisa menceritakan semua perlakuan Om indra kepada ibunya, karena ia takut jika ibu marah. Dengan cara menulis, ibu mulai memperhatikan cerita-cerita dan memahami semua curahan hati Nayla. Di dalam tulisan-tulisan yang Nayla tulis mengandung sebuah kritikan tentang laki-laki yang bersikap seperti binatang. Ia kesal atas apa yang telah dilakukan para lelaki untuk bisa menjamah,menjelajah dan menikmati tubuhnya begitu saja. Tulisan karya Nayla sering ditolak oleh majalah,koran,bahkan penerbit novel. Tetapi Nayla terus berusaha agar hasil karyanya tersebut bisa diterima untuk dijadikan sebuah novel. Hingga akhirnya Nayla mencoba menyerahkan ceritanya tersebut ke sebuah editor dan dimuat di koran. Kini Nayla mempunyai teman seorang seniman yang dulu pernah Nayla kagumi. Nayla menekuni dunia menulisnya yang lebih mengarah ke dunia seksualitas, karena menurutnya perempuan dan seksualitas itu penting untuk diperhatikan.

Sinopsis Novel "SAMAN"


IDENTITAS BUKU

JUDUL BUKU      : SAMAN
JENIS BUKU        : NOVEL
GENRE                  : FIKSI
PENGARANG       : AYU UTAMI
PENERBIT             : KPG (KEPUSTAKAAN POPULER GRAMEDIA)
TAHUN TERBIT                    : CETAKAN KE-1 APRIL 1998
KOTA PENERBIT                 : JAKARTA
TEBAL HALAMAN               : 206 HALAMAN

Wisanggeni boleh dikatakan beruntung.Karena dia adalah satu-satunya anak bapak ibunya yang berhasil hidup.Dua adiknya bahkan belum sempat dilahirkan ibunya karena secara tiba-tiba janinnya menghilang dari perut ibunya.Sedangkan adiknya yang ketiga meninggal dihari ketiga setelah dilahirkan. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya saat itu, tidak ada satupun keluarga yang mengerti. Tapi Wis kecil merasakan sesuatu yang tidak dapat diceritakannya kepada orang lain mengenai kejadian itu. Sampai kepindahannya ke Jakarta.
Athanasius Wisanggeni. Resmi menjadi pater dan sejak saat itu dia lebih sering dipanggil romo Wis. Berkat status barunya ini, dia mempuyai kesempatan untuk kembali ke kota masa kecilnya dulu, Perabumulih. Dia meminta bantuan kepada romo Daru untuk membantunya agar pihak gereja mau mengirimnya ke kota tersebut. Dia selalu merasa mempunyai ikatan dengan tempat itu, selalu ada yang memanggilnya untuk kembali kesana.Apalagi sekarang ibunya sudah meninggal.Dia merasa perlu mengabarkan itu kepada mereka yang hilang pada masa kecilnya.
Akhirnya Wis kembali ke Perabumulih.Ditempuhnya perjalanan jauh Jakarta-Perabumulih demi mencari yang dulu pernah hilang.Dan kembali mengenang masa kecilnya.Sesampainya dikota kecil itu, dia mengunjungi rumahnya dulu. Ternyata rumah itu telah ditempati oleh orang lain. Sepasang suami istri yang sedang menanti kelahiran anak pertama mereka. Wis cemas dan menganjurkan mereka untuk pergi ke luar kota menjelang kelahiran si bayi. Dan dia diberi kepercayaan oleh sang suami untuk menjaga rumah itu selama mereka pergi.
Sampai pada suatu malam, saat dia hendak mengunci pintu, dia merasa ada sesuatu dibelakang tengkuknya.Dia mendengar tapi tidak dapat mengerti.Karena penasaran apakah itu adik-adiknya dia menoleh kebelakang.Tapi setelah dia menoleh, tidak ada apa-apa dibelakangnya.Kejadian ini persis ketika dia mendengar tangis adiknya yang telah hilang dan meninggal dulu.Apakah ini sesuatu yang dulu pernah hilang?Tidak ada yang tahu.Sampai dia melihat sosok perempuan diluar jendela yang berlari karena didekatinya.
Perempuan itu bernama Upi, dia gila. Dia biasa berkeliaran keliling kota. Hati Wis tertegun saat mengembalikan Upi kepada keluarganya. Ibu dan kedua kakaknya memasung Upi supaya dia tidak berkeliaran dan meresahkan warga. Hati Wis terpanggil untuk membantu perempuan gila ini, dia membuatkan rumah yang layak untuk Upi. Bahkan dia membantu semua petani karet di lokasi transmigrasi Sei Kumbang ini untuk mengoptimalkan hasil panen mereka.Mulai dari penanaman kembali pohon-pohon karet sampai membangun turbin uutuk pengairan.Wis bekerja begitu semangat, sampai suatu ketika dia tersesat didalam hutan dan seekor ular kobra siap mematuknya.Tapi dia merasa sesuatu terjadi dibelakang tengkuknya lagi, dan ular itupun pergi menjauhinya yang sudah setengan tak sadarkan diri.Apakah itu kalian adik-adikku?Tak ada yang tau.
Lokasi transmigrasi Sei Kumbang harus dijadikan kebun kelapa sawit.Kabar itu membuat Wis dan petani karet lainnya geram.Berbagai terror menimpa mereka karena mereka masih mempertahankan kebun karet mereka.Dirusaknya turbin air mereka dan beberapa pohon karet. Pemerkosaan terhadap Upi dan istri Anson (kakak kedua Upi) menjadi puncak amarah mereka. Perang sengit terjadi dalam beberapa saat saja.Karena setelah kepergian beberapa warga untuk menghajar hulubalang biadab itu Wis yang mengamankan perempuan dan anak-anak disebuah suaru ditangkap oleh oleh orang-orang perusahaan yang menangani kebun kelapa sawit. Seluruh rumah dibakar begitu juga dengan Upiyang belum sempat terevakuasi bersama perempuan dan anak-anak di surau.  Dan etah bagaimana nasib beberapa warga yang hendak menyerbu perusahaan itu tadi.
Wis disekap.Kaki dan tangannya diikat.Matanya ditutup.Dia dibawa ke sebuah penjara kecil didalam sebuah bangunan perusahaan.Dia ditelanjangi, dihajar habis-habisan.Sampai pada suatu malam, Wis mencim bau kayu terbakar.Ternyata bangunan tempat Wis dikurung telah dibakar.Wis mendengan suara Anson, seperti mendapat kekuatan yang tak terduga Wis berhasil keluar dari banguan yang telah terbakar tadi menuju tempat Anson berdiri.Sekali lagi Wis selamat.Dia bersama Anson pergi secara sembunyi-sembunyi menyelamatkan diri.Dan dua tahun kemudian Athananius Wisanggeni mengganti namanya menjadi Saman.
Wis benar-benar mengganti semua identitas asli dirinya.Sekarang dia menjadi orang baru yang bernama Saman.Yasmin, temannya semasa SMP dan satu-satunya perempuan yang bisa menggoda hatinya menyarankan agar Saman bersembunyi di luar negeri saja.Disana dia bisa membantu sebuah LSM.Dan tidak ada satupun yang dapat mengenalinya sebagai paster yang menjadi buronan.

Sunyi yang berbisik

Suara derit pintu mulai menembus gendang telingaku
Getar kasur pun semakin hilang dalam lamunanku
Raga ini seakan ingin terlepas dari
Liku..
Kaku..
Semu..
Alunan melodi yang perlahan menggapai tanganku
Kini mengajakku terbang ke langit sendu
Senja..
Kapan kau datang memelukku seperti pagi itu?
Aku merindukanmu yang slalu menghangatkanku
Kini kau perlahan melangkah pergi dari pelukanku
Hanya suara detak jantung yang menemani lukaku
Di pucuk pohon itu dedaunan melambaikan lembaran kearahku
Entah apa yang dikatakannya kepadaku
Aku tak tau..
            Di tengah gelapnya malam, bulan bersembunyi di awan kelabu
Malu menampakkan senyum kilau itu
Bintang pun tak ingin bersandar dipundakku
Lelah terhadap orang yang ku ijinkan mengisi relung hatiku
Tetapi enggan bersinggah dihatiku yang telah lama beku
Jam dinding pun semakin cepat menyapa sederet angka itu
Memutar jemarinya dan melenggang tanpa berharap menjadi lesu


dhesyarba (2014/11/05 00:01)

GALAU


Aku mulai menyapa bintang yang menari dengan riangnya
Aku sentuh lembut jari jemarinya
Dan ku sampaikan pesan lewat raut wajahku yang semakin muram
Bintang..
Lihatlah aku !
Pandangi setiap garis wajahku !
Apakah aku lesu atau bahkan kaku?
Entahlah..
Hujan pun kini tidak mampu menjelaskan betapa remuknya relung hati ini
Seakan akan perang telah dimulai
Membuat hati ini semakin berderup dengan kencangnya
Sakitkah?
Iya
Jawabku dengan nada yang bagaikan kerupuk sudah habis daya tahan tubuhnya
Aku pun tak mengerti harus menorehkannya dengan cara yang entah bagaimana
Tinta saja seakan akan tidak ingin lagi menorehkan semua diatas kertas kusut
Yang kini mulai merobekkan dirinya
Tangan ini enggan mengukir sajak sajak manis seperti cookies
Tuhan, angkatlah rasa ini
Biarkan aku merangkak perlahan menggapai bintang yang lain
Bisakah?
Entah sampai kapan.

Dhesyarba (2014/11/05 23:49)

Topeng


Sajak pagi ini melantunkan melodi
Melodi yang entah berbisik atau bernyanyi
Aku terkapar diantara dua hati
Mungkin wajah pagi ini berseri
Tapi akankah kalian tahu remuk hati ini?
Berpikirlah..
Sayatan untaian kata itu membekaskan perih
Sungguh sampai saat ini aku belum mampu mengerti
Mengapa aku selalu bersandiwara dibalik ini
Aku bersembunyi dibalik muka indah saat ini
Entah sampai kapan raga menjadi ragu untuk bersenandung kembali
Dibalik tirai itu, kini aku menitipkan langkahku yang semakin mati
Betapa letihnya aku terima semua yang pahit
Mata saja sudah enggan melihat deretan nyali
Yang semakin hari semakin ingin pergi
Dan takkan kembali..


Dhesyarba (2014/11/06 07:07)

Jiwa yang pergi


Selamat pagi jiwa yang mulai pergi
Aku biarkan pisau itu mengiris hati ini
Menemani pagiku yang tak pernah berarti
Raga ini semakin tak bernyali
Separuh jiwa kini terbang entah kemana
Mungkin ia yang pernah singgah mulai enggan
Enggan menerima raga yang cacat ini
Mengapa harus merenggang dan lepas
Bahkan perjlanan kita hampir sampai diujung perkara
Tapi seperti kapas yang terbang menari begitu saja
Kini tiada lagi raga dan jiwa yang menemani
Bosan, marah, benci?
Ah, itu sudah biasa
Hati ini sudah biasa diiris seperti manggis
Tanpa bercak merah yang mengalir
Tapi sangat pedih dan mematikan batin

Dhesyarba (2014/11/06 07:16)

KOSONG


Pena yang mengarahkanku kembali untuk menyentuh sekumpulan hasil olahan serbuk kayu yang mulai rentan dan menjadikannya sebagai tempat sebuah curahan hati bersenandung.
Dhesyarba (06/11/2014 07:30)

Bergerak

Bergerak maju bukanlah jalan kebelakang
Bergerak mundur bukanlah jalan kedepan
Bukan karena apa yang menjadi acuan
Tetapi melihat bagaimana kaki melangkah
Badan tak perlu pusing berhadap
Hanya tujuan dan niat tekad
Yang akan mengarahkan kita bergerak
Maju atau mundur

Cahaya dilangit itu


Seperti ku terbang di langit tinggi
temui satu titik cahaya-Mu
ku lihat ada malaikat kecilku
membisikkan ku tuk tetap disini

MASYARAKAT DAN BUDAYA MATARAMAN



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Budaya Jawa Mataraman
            Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Masyarakat Jawa Mataraman memiliki produk kebudayaan yang tidak jauh berbeda dari komunitas Jawa yang tinggal di Surakarta dan Yogyakarta. Masyarakat Jawa Mataraman mempunyai pola kehidupan sehari-hari sebagaimana pola kehidupan orang Jawa pada umunya. Tlatah ini dapat dibedakan lagi ke dalam subwilayah kebudayaan yang lebih kecil. Budayawan Dwi Cahyono membaginya menjadi Mataraman Kulon (Barat),Mataraman Wetan (Timur), dan Mataraman Pesisir. Pembagian ini didasarkan pada jejak sejarah dan budaya lokal yang berkembang di sana. Bahasa menjadi ciri yang paling mudah untuk membedakan ketiganya. Dari segi kedekatan budayanya dengan Jawa Tengah, Mataram Kulon lebih kuat. Bahasa sehari-hari yang digunakan lebih halus dibandingkan Mataram Wetan. Wilayahnya merupakan bekas Keresidenan Madiun. Masyarakat Jawa Mataraman ini pada umumnya masyarakat yang tinggal di wilayah Kabupaten Ngawi, Kabupaten dan Kota Madiun, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Magetan, Kabupaten dan Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten dan Kota Blitar, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Bojonegoro.

2.2. Kesenian khas
Di daerah Mataraman, kesenian Jawa Tengahan seperti ketoprak dan wayang kulit cukup populer. Legenda terkenal dari Jawa Timur antara lain Damarwulan dan Angling Darma. Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Mataraman yang berarti bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Sedangkan selera berkesenian masyarakat ini sama dengan selera berkesenian masyarakat Jawa pada umumnya. Dalam masyarakat Jawa Mataraman ini banyak jenis kesenian seperti ketoprak, wayang purwa, campur sari, tayub, wayang orang, dan berbagai tari yang berkaitdengan keraton seperti tari Bedoyo Keraton.


2.3 Adat Istiadat

            Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan. Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako’ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Masyarakat di pesisir barat: Tuban, Lamongan, Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria, berbeda dengan lazimnya kebiasaan daerah lain di Indonesia, dimana pihak pria melamar wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan masuk ke dalam keluarga wanita. Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan kirim donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun setelah kematian.

2.4. Tradisi Politik

Ciri sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap tradisi politiknya. Pengaplingan politik berlaku pula di sini. Masyarakat di tlatah Mataraman dari sejak 1955 hingga 2004 selalu ”loyal” kepada partai-partai nasionalis.
Orang Mataraman tidak suka yang mencolok-colok, misalnya Islam yang terlaluIslam itu tidak suka karena dianggap tidak nasionalis. Jadi, partai-partai yang berlabelnasionalis akan laku di masyarakat jawa Mataraman.Sebaliknya, mayoritas masyarakat di tlatah Madura dan Pandalungan lebih loyalkepada pada partai yang berbasis massa Islam Nahdlatul Ulama, seperti Partai KebangkitanBangsa. Ulama dan kiai masih menjadi tokoh panutan di sana. Pengaruhnya pun ikutmerambah ke ranah pilihan politik warganya.
Dengan demikian, ”kuali peleburan” telah membentuk Jatim menjadi unik. Menjadikannya berbeda dengan saudara Jawa lainnya, Jawa Tengah maupun Jawa Barat. Baik sisi budaya maupun politiknya.

2.5. Sistem Sosial

Masyarakat Jawa Mataraman memiliki produk kebudayaan yang tidak jauh berbedadari komunitas Jawa yang tinggal di Surakarta dan Yogyakarta. Masyarakat Jawa Mataraman mempunyai pola kehidupan sehari-hari sebagaimana pola kehidupan orang Jawa pada umunya. Pola bahasa Jawa yang digunakan, meskipun tidak sehalus masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, mendekati kehalusan dengan masyarakat Jawa yang terpengaruh kerajaan Mataram di Yogyakarta. Di jawa timur bahasa yang digunakan yaitu bahasa jawa namun bahasa jawa yangdigunakan di Jawa Timur memiliki beberapa dialek/logat. Di daerah Mataraman (eks-Karesidenan Madiun dan Kediri), Bahasa Jawa yang digunakan hampir sama dengan Bahasa Jawa Tengahan (Bahasa Jawa Solo-an). Bahasa Jawa yang cukup berbeda dengan dialek standar bahasa Jawa ("dialek Mataraman") dan dijuluki "bahasa ngapak" karena ciri khas bunyi /k/ yang dibaca penuh pada akhir kata (berbeda dengan dialek Mataraman yang dibaca sebagai glottal stop). Contoh bahasa pada masyarakat jawa mataraman, istilah "sira" dalam bahasa Mataraman menunjukkan posisi paling rendah di bawah "panjenengan" atau "paduka". Kata "isun" menunjukkan derajat tertinggi, yang bisa menggunakan "isun" hanyaraja. Di daerah pesisir utara bagian barat (Tuban dan Bojonegoro), dialek Bahasa Jawa yang digunakan mirip dengan yang dituturkan di daerah Blora-Rembang di Jawa Tengah. Begitu pula pola cocok tanam dan sistem sosial yang dianut sebagaimana pola masyarakat Surakarta dan Yogyakarta. Pola cocok tanam dan pola hidup di pedalaman Jawa Timur, disebagian besar, memberi warna budaya Mataraman tersendiri bagi masyarakat ini.

Sejarah Bahasa Indonesia



A. Sejarah Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Asal mula munculnya bahasa Indonesia disebabkan karena adanya peristiwa Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh para pemuda pemudi Indonesia yang bertujuan untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Alasan pemuda pemudi Indonesia menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu adalah dengan adanya sebuah bahasa persatuan bangsa, maka akan ada pula tempat untuk saling memudahkan cara berkomunikasi baik lisan maupun tulisan.  Bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Pada saat itu bahasa Melayu digunakan sebagi bahasa nasional atau bahasa pergaulan di seluruh nusantara. Bahasa Melayu Riau dipilih sebagai bahasa persatuan Negara Republik Indonesia atas beberapa pertimbangan sebagai berikut:
Jika bahasa Jawa digunakan, suku-suku bangsa lain di Republik Indonesia akan merasa dijajah oleh suku Jawa yang merupakan golongan mayoritas di Republik Indonesia.
Bahasa Jawa jauh lebih sukar dipelajari dibandingkan dengan bahasa Melayu Riau. Ada tingkatan bahasa halus, biasa, dan kasar yang dipergunakan untuk orang yang berbeda dari segi usia, derajat, ataupun pangkat. Bila pengguna kurang memahami budaya Jawa, ia dapat menimbulkan kesan negatif yang lebih besar.
Bahasa Melayu Riau yang dipilih, dan bukan Bahasa Melayu Pontianak, atau Banjarmasin, atau Samarinda, atau Maluku, atau Jakarta (Betawi), ataupun Kutai, dengan pertimbangan pertama suku Melayu berasal dari Riau, Sultan Malaka yang terakhirpun lari ke Riau selepas Malaka direbut oleh Portugis. Kedua, ia sebagai lingua franca, Bahasa Melayu Riau yang paling sedikit terkena pengaruh misalnya dari bahasa Tionghoa Hokkien, Tio Ciu, Ke, ataupun dari bahasa lainnya.
Sejak itulah bangsa Indonesia mempunyai bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia dan sampai sekarang bahasa Indonesia berkembang dengan pesat. Bahasa dalam perkembangannya mendapat pengaruh dari berbagai bahasa, baik bahasa daerah maupun bahasa asing.

Fungsi Bahasa Indonesia



A.Fungsi Bahasa Indonesia
Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan manusia. Dengan bahasa manusia memiliki ciri pembeda terhadap makhluk-makhluk lain dan dengan bahasa manusia menunjukkan kemanusiaannya. Dengan demikian, bahasa bersifat unik. Bahasa memiliki fungsi kultural, yaitu sebagai sarana untuk menyampaikan kebudayaan dari satu generasi kepada generasi yang lain. Selain itu juga berfungsi sebagai sarana untuk mewariskan ilmu pengetahuan.
Fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat.
1.        Fungsi bahasa secara umum menurut Keraf (1997: 3 – 6) merumuskan fungsi bahasa bagi setiap orang ada empat, yaitu :
·         Sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan atau mengekspresikan diri. Melalui bahasa kita dapat menyatakansecara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam hati dan pikiran kita. 
·         Sebagai alat komunikasi. Bahasa merupakan saluran maksud seseorang, yang melahirkan perasaan dan memungkinkan masyarakat untuk bekerja sama. Pada saat menggunakan bahasa sebagai komunikasi, berarti memiliki tujuan agar para pembaca atau pendengar menjadi sasaran utama perhatian seseorang. Manusia memakai dua cara berkomunikasi, yaitu verbal dan nonverbal. Berkomunikasi secara verbal dilakukan menggunakan alat/media (lisan dan tulis), sedangkan berkomunikasi secara nonverbal dilakukan menggunakan media berupa aneka symbol, isyarat, kode, dan bunyi seperti tanda lalu lintas, sirene setelah itu diterjemahkan kedalam bahasa manusia.
·         Sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi sosial. Pada saat beradaptasi di lingkungan sosial, seseorang akan memilih bahasa yang digunakan tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. Seseorang akan menggunakan bahasa yang non-formal pada saat berbicara dengan teman dan menggunakan bahasa formal saat berbicara dengan orang tua atau yang dihormati.
·         Sebagai alat kontrol sosial. Yang mempengaruhi sikap, tingkah laku, serta tutur kata seseorang. Kontrol sosial dapat diterapkan pada diri sendiri dan masyarakat.


2.      Fungsi bahasa secara khusus
·         Mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari. Manusia adalah makhluk sosial yang tak terlepas dari hubungan komunikasi dengan makhluk sosialnya. Komunikasi yang berlangsung dapat menggunakan bahasa formal dan non formal. 
·         Mewujudkan Seni. Bahasa yang dapat dipakai untuk mengungkapkan perasaan melalui media seni khususnya dalam hal sastra. Terkadang bahasa yang digunakan yang memiliki makna denotasi atau makna yang tersirat. Dalam hal ini,diperlukan pemahaman yang mendalam agar bisa mengetahui makna yang ingin disampaikan.
·         Mempelajari bahasa kuno. Dengan mempelajari bahasa kuno, akan dapat mengetahui peristiwa atau kejadian dimasa lampau.Untuk mengantisipasi kejadian yang mungkin atau dapat terjadi kembali dimasa yang akan datang, atau hanya sekedar memenuhi rasa keingintahuan  tentang  latar belakang dari suatu hal.
·         Mengeksploitasi IPTEK. Pengetahuan yang dimiliki oleh manusia akan selalu didokumentasikan supaya manusia lainnya juga dapat mempergunakannya dan melestarikannya demi kebaikan manusia itu sendiri.

Kedudukan Bahasa Indonesia


·      KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA SEBAGAI  BAHASA NASIONAL
Kedudukan pertama bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa persatuan. Hal ini tercantum dalam Sumpah pemuda (28-10-1928). Ini berarti bahwa bahasa Indonesia berkedudukan sebagai Bahasa Nasional. Kedua adalah sebagai bahasa negara.
Dalam kedudukannya sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia memiliki beberapa fungsi yaitu :
1.      Lambang Kebanggaan Kebangsaan
Bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai luhur yang mendasari perilaku bangsa Indonesia.
2.      Lambang Identitas Nasional
Bahasa Indonesia mewakili jatidiri bangsa Indonesia, selain Bahasa Indonesia terdapat pula lambang identitas nasional yang lain yaitu bendera Merah-Putih dan lambang negara Garuda Pancasila.
3.      Alat Perhubungan
Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku dengan bahasa yang berbeda-beda, maka kan sangat sulit berkomunikasi kecuali ada satu bahasa pokok yang digunakan. Maka dari itu digunakanlah Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan perhubungan nasional.
4.      Alat Pemersatu Bangsa
Mengacu pada keragaman yang ada pada Indonesia dari suku, agama, ras, dan budaya, bahasa Indonesia dijadikan sebagai media yang dapat membuat kesemua elemen masyarakat yang beragam tersebut kedalam sebuah persatuan.

·         KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA SEBAGAI BAHASA NEGARA
Bahasa negara sama saja dengan bahasa nasional atau bahasa persatuan artinya bahasa negara merupakan bahasa primer dam baku yang acapkali digunakan pada kesempatan yang formal.Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara yaitu :
1.      Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Resmi Kenegaraan.
Kedudukan pertama dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dibuktikan dengan digunakannya bahasa Indonesia dalam naskah proklamasi kemerdekaan RI 1945. Mulai saat itu dipakailah bahasa Indonesia dalam segala upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik dalam bentuk lisan maupun tulis.
2.      Bahasa Indonesia sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan. 
Kedudukan kedua dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dibuktikan dengan pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di lembaga pendidikan dari taman kanak-kanak, maka materi pelajaran yang berbentuk media cetak juga harus berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan menerjemahkan buku-buku yang berbahasa asing atau menyusunnya sendiri. Cara ini akan sangat membantu dalam meningkatkan perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknolologi (iptek).
3.      Bahasa Indonesia sebagai penghubung pada tingkat Nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah.
Kedudukan ketiga dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dibuktikan dengan digunakannya Bahasa Indonesia dalam hubungan antar badan pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Sehubungan dengan itu hendaknya diadakan penyeragaman sistem administrasi dan mutu media komunikasi massa. Tujuan agar isi atau pesan yang disampaikan dapat dengan cepat dan tepat diterima oleh masyarakat.
4.      Bahasa Indonesia Sebagai pengembangan kebudayaan Nasional, Ilmu dan Teknologi. 
Kedudukan keempat dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dibuktikan dengan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi, baik melalui buku-buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah maupun media cetak lainnya. Karena sangatlah tidak mungkin bila suatu buku yang menjelaskan tentang suatu kebudayaan daerah, ditulis dengan menggunakan bahasa daerah itu sendiri, dan menyebabkan orang lain belum tentu akan mengerti.

Peran Mahasiswa Ilmu Budaya Menyambut AEC 2015



            Sejak dibentuknya ASEAN sebagai organisasi regional pada tahun 1967, negara-negara anggota telah meletakkan kerjasama ekonomi sebagai salah satu agenda utama yang perlu dikembangkan. ASEAN dari tahun ke tahun berusaha meningkatkan integrasi kerjasama antar negara anggota ASEAN. Pembentukan masyarakat ASEAN yang salah satunya berpilar pada ekonomi, yaitu AEC, yang telah disepakati oleh negara anggota ASEAN dalam Bali Concord II tahun 2003 yang dipertegas kembali pelaksanaannya pada KTT ke-12 pada Januari 2007. Pada KTT ini ditandatangani deklarasi Cebu tentang percepatan pembentukan komunitas ASEAN pada tahun 2015.
Latar belakang terbentuknya AEC adalah membentuk ASEAN menjadi kawasan yang stabil, sejahtera , dan kompetitif  dengan pembangunan ekonomi untuk mengurangi kemiskinan dan perbedaan antara negara di ASEAN. Dengan diberlakukannya AEC tiap-tiap negara akan tergabung dalam bidang produksi untuk meningkatkan efisiensi. Kerjasama pelaku produksi antar negara akan semakin berkembang untuk menciptakan efisiensi dengan nilai tinggi. Pelaku produksi tidak perlu untuk memproduksi semua jenis barang untuk kebutuhannya sendiri.
Peran mahasiswa di Indonesia untuk menyambut AEC adalah melakukan pendekatan dengan metode penelitian tentang gambaran secara umum kemampuan mahasiswa bersaing untuk dapat berkolaborasi dalam AEC sebagai wujud peran dari peran akademis. Mahasiswa harus mampu menyatukan hubungan antara ekonomi dan budaya sehingga menimbulkan kesinambungan yang dapat memperoleh suatu penghargaan terhadap Indonesia atas apa yang telah diperjuangkan. Oleh sebab itu, mulai dari sekarang mahasiswa mempunyai peran yang sangat penting dalam membangkitkan semangat para masyarakat Indonesia terutama orang-orang yang terlibat dalam mengurusi penyambutan AEC 2015 agar selalu berkomitmen tinggi dan berambisi untuk mendapatkan penghargaan atas jati dirinya. Hal ini sangat penting, karena jati diri yang baik dapat mengarahkan seseorang menjadi yang lebih baik ke depannya. Di dalam suatu komunitas diperlukan banyak argumen untuk menampung aspirasi negara tersebut. Kehadiran AEC bisa membantu ketidakberdayaan negara-negara ASEAN dalam persaingan global ekonomi dunia yaitu dengan membentuk pasar tunggal yang berbasis di kawasan Asia Tenggara. Selain di bidang ekonomi, mahasiswa ilmu budaya juga harus berperan dalam meningkatkan kearifan lokal budaya agar mendapatkan sebuah penghormatan bukan sebuah musibah. Saat ini banyak negara yang telah menjadi maju karena tetap berpegang teguh pada kearifan lokalnya seperti negara Jepang dan China. Kearifan lokal dapat dimaknai sebagai gagasan-gagasan setempat  yang bersifat bijaksana, penuh kearifan,  bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal itu tentu tidak muncul serta-merta, tapi berproses panjang sehingga akhirnya terbukti, hal itu mengandung kebaikan bagi kehidupan mereka. Keterujiannya dalam sisi ini membuat kearifan lokal menjadi budaya yang mentradisi, melekat kuat pada kehidupan masyarakat. Artinya, sampai batas tertentu ada nilai-nilai yang berakar kuat pada setiap aspek lokalitas budaya ini. Semua, terlepas dari perbedaan intensitasnya, mengeram visi terciptanya kehidupan bermartabat, sejahtera dan damai. Namun dari waktu ke waktu nilai-nilai luhur itu mulai meredup, memudar, kehilangan makna sebenarnya. Lalu yang tertinggal hanya kulit permukaan semata, menjadi simbol yang tanpa arti. Bahkan akhir-akhir ini budaya masyarakat hampir secara keseluruhan mengalami reduksi, menampakkan diri sekadar untuk formalitas. Kehadirannya tak lebih untuk komersialisasi dan mengeruk keuntungan. Oleh sebab itu peran mahasiswa ilmu budaya juga sangat penting dalam peningkatan kearifan budaya lokal yang diselenggarakan pada AEC agar tidak terjadi kemunduran yang disebabkan akibat hilangnya rasa bijaksana yang melekat pada negara tersebut. Karena dalam menanggapi AEC bukan dengan persaingan tetapi kolaborasi.Mahasiswa sebagai pucuk generasi muda merupakan ladang utama orang-orang yang mempunyai daya kreatif tinggi. Mahasiswa yang berilmu pengetahuan luas, menyukai hal-hal baru, bersemangat juang tinggi, berpikiran kritis, dan berkepedulian sosial tinggi, merupakan agen yang mampu mengembangkan perekonomian Indonesia dengan menciptakan lapangan pekerjaan. Mahasiswa yang telah berani berwirausaha membuktikan bahwa usaha yang dilakukan mereka dapat membuahkan hasil yang manis karena selain menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, menambah pengalaman diri sendiri, juga dapat memotivasi mahasiswa lain untuk melakukan hal yang serupa.
            Masalah Indonesia dalam menghadapi AEC adalah AEC mengakibatkan tenaga kerja dari luar negeri akan lebih mudah bermigrasi ke Indonesia. Mereka yang memiliki keahlian di atas keahlian SDM Indonesia tentunya akan lebih mudah mendapat pekerjaan di perusahaan yang ada di Indonesia dan menggeser tenaga kerja Indonesia sendiri. Lagi-lagi akan semakin banyak penganguran. Dan mahasiswa harus berperan penting dalam membantu menggerakkan dan mengarahkan masyarakat Indonesia agar selalu berkreatifitas serta mau peduli akan keadaan ekonomi di Indonesia. Mahasiswa ilmu budaya pun harus senantiasa ikut memperjuangkan untuk membangkitkan kembali jati diri bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Akan tetapi lain halnya apabila sektor usaha Indonesia dan kualitas SDM di Indonesia dapat mengungguli negara lainnya, produk-produk Indonesia akan semakin mudah untuk go internasional, perkembangannyapun akan semakin pesat dan tentunya profit yang didatangkan akan semakin optimal dan akan lebih banyak tenaga kerja Indonesia yang berhasil diserap.
            Solusinya adalah peran mahasiswa yang mempunyai iptek tinggi harus semakin ditingkatkan. Semakin banyak orang-orang yang berilmu tinggi, berkreatifitas tinggi mampu meningkatkan sebuah keuntungan besar bagi negara. Mahasiswa harus dapat melakukan pencerdasan terkait AEC ke masyarakat sehingga masyarakat siap menghadapinya dan dapat memanfaatkan peluang yang ada. Mahasiswa juga harus meningkatkan kapabilitas diri agar bisa menjadi SDM berkeahlian yang dapat bersaing di era globalisasi. Selain itu, mahasiswa juga dapat berperan dalam meningkatkan kapabilitas SDM Indonesia di beberapa aspek seperti bahasa Inggris, kemampuan pemasaran, dan sebagainya. Di kesempatan tersebut, mahasiswa ilmu budaya dalam meningkatkan penguasaan bidangnya dalam berbahasa inggris, karena hal itu akan membantu untuk memudahkan berkomunikasi untuk berkolaborasi dengan negara lain yang ada di ASEAN. Mahasiswa juga dapat mengkampanyekan gerakan kewirausahaan dan pengembangan produk Indonesia dan mempelopori hal itu pada mahasiswa se-Indonesia. Mahasiswa juga harus bisa menyalurkan teknologi maupun karya-karya yang dapat mendukung kekuatan UMKM Indonesia.
            Kesimpulannya, AEC adalah termasuk bidang yang dapat meningkatkan kesejahteraan negara Indonesia apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tidak menggunakan ini sebagai persaingan tetapi sebagai kolaborasi sebuah budaya yang akan menghasilkan keuntungan yang dapat meningkatkan ekonomi negara. Tidak perlu melakukan kekerasan dalam bersaing. Membangkitkan jati diri itu sangat penting, maka dari itu latihlah sejak usia dini untuk terbiasa melakukan hal-hal yang dapat membuat sebuah kebaikan dan mendatangkan semangat tinggi para generasi penerus. Apabila Indonesia mampu memperoleh suatu kehormatan dari AEC, maka Indonesia akan lebih mudah untuk memperbaiki kualitas ekonomi negaranya dan budaya yang dapat tergusur akibat perilaku masyarakat yang sudah tidak peduli dan lupa akan budaya sendiri. 

PERAN DAN PENGARUH KEBUDAYAAN



            Kebudayaan memiliki banyak peranan didalam kehidupan bermasyarakat, salah satunya dalam dunia usaha atau korporasi. Dalam dunia usaha, kebudayaan memiliki peranan sangat penting terutama di bidang perdagangan. Contoh saja bisnis perekonomian di Cina yang senantiasa menjaga kepercayaan dari masyarakat pelanggan dan membangun jaringan-jaringan yang memperkuat kelangsungan bisnis mereka. Dalam pelaksanaan dunia usaha dan perdagangan, metode budaya bisnis sangat mengedepankan nilai-nilai budaya/moral dari para pelaku bisnis sehingga dapat mengatasi permasalahan yang terjadi dalam setiap kinerja perekonomian. Beberapa nilai moral yang dilakukan adalah mengedepankan nilai kebersamaan, keadilan, kesopanan, kepercayaan, kedisiplinan, kejujuran, etos kerja tinggi, dan sebagainya. Contohnya seorang pebisnis harus mampu meningkatkan kualitas dagangnya dengan cara-cara yang tidak merugikan orang lain. Dengan diterapkannya nilai-nilai budaya/moral seperti itu maka akan menjadi sebuah kebiasaan untuk mengajak orang lain berbuat baik dan menjaga nilai budaya juga. Apabila usaha tersebut berhasil maka akan memberikan penghargaan sendiri atas kerja kerasnya dalam menanamkan nilai budaya atau moral yang baik misal saja mendapat pujian dari orang lain atau bahkan mendapatkan keuntungan yang berlebih atas hasil kerjanya.
Kebudayaan juga lahir dari sebuah kebiasaan yang dilakukan rutin oleh setiap individu. Kebudayaan dan kebiasaan memiliki kesamaan persepsi di dalam masyarakat. Karena kebiasaan melakukan sesuatu atau bertingkah laku di dalam masyarakat biasanya akan menimbulkan sebuah kebudayaan yang sudah melekat pada diri anggota pada masyarakat tersebut. Hal itu dapat dilihat dari budaya-budaya yang sampai saat ini masih ada dan masih dilestarikan, itu semua dikarenakan masyarakat telah terbiasa melakukan kegiatan yang dianggap memiliki nilai budaya tersebut bahkan mereka berbondong-bondong untuk menurunkan hasil kebiasaan yang menjadi kebudayaan tersebut kepada anak cucu mereka agar tetap bertahan dan dilestarikan. Tujuannya agar generasi penerus mengenal sejarah kebudayaan yang pernah dilakukan oleh nenek moyangnya dan mencari sebuah identitas tersendiri bagi masyarakat didaerah tersebut. Selain itu memberikan pengetahuan tentang bagaimana cara menjaga dan merawat sebuah kebudayaan yang bernilai positif, maka dari itu dilakukan secara terbiasa dan turun temurun agar tetap utuh terjaga hasil kebudayaannya.
Di dalam kehidupan bermasyarakat yang memiliki kebudayaan terdapat pula unsur-unsur budaya diantaranya unsur budaya yang mudah berubah dan unsur budaya yang sukar berubah. Unsur budaya yang mudah berubah antara lain bahasa, teknologi & peralatan, mata pencaharian, dan pengetahuan. Itu disebabkan karena semakin berkembangnya jaman yang semakin maju dan luasnya pengetahuan yang dimiliki menyebabkan budaya menjadi lebih berubah dari budaya sebelumnya. Contoh saja pada unsur budaya teknologi & peralatan yang semakin modern pemikiran pencipta budaya yang ingin menjadi lebih canggih dari hasil karya cipta sebelumnya. Dahulu masyarakat menggunakan tungku untuk memasak, di era sekarang manusia mulai menciptakan dan menggunakan kompor untuk digunakan sebagai alat memasak. Hal itu menjadikan sebuah kebiasaan masyarakat untuk lebih berkembang dan berpikir kritis untuk menciptakan ide-ide yang menhasilkan budaya baru. Salah satu contoh lagi terdapat pada bahasa, karena bahasa kini telah mengalami inkulturasi dengan budaya-budaya lain dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat interaksi atau komunikasi sesamanya. Saat ini bahasa sudah menjadi sebuah identitas kelompok tertentu bahkan menghasilkan sebuah budaya, itu terjadi karena adanya pengaruh kebudayaan luar yang mulai merasuki jiwa orang-orang yang ingin mengikuti perkembangan jaman ke modern dengan cara menciptakan hal-hal baru dengan menyesuaikan apa yang ada disekitarnya. Akan tetapi pencampuran bahasa juga menimbulkan bahasa yang awalnya digunakan dikalangan masyarakat sebagai sebuah identitas menjadi hilang dan samar akibat terdesaknya dengan bahasa yang dianggap lebih cocok dengan lingkungannya. Unsur budaya yang sukar berubah adalah religi dan kesenian. Unsur religi menjadi salah satu unsur yang paling utama dalam kategori unsur budaya sukar berubah, dikarenakan setiap orang memiliki hak untuk memilih terutama memilih agama dan setiap orang memiliki kepercayaan dalam batinnya masing-masing untuk memilih mana yang dianggap baik. Apapun yang berhubungan dengan religi maka berhubungan pula dengan keyakinan , jadi tidak semua orang mudah untuk merubah apa yang sudah diyakini.
Dapat disimpulkan bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki identitas atau ciri masing-masing dalam berbudaya. Peranan kebudayaan dalam masyarakat sangat penting demi keutuhan masyarakat tersebut agar menimbulkan rasa solidaritas didalam kelompok tersebut. sebuah kegiatan yang dilakukan secara berangsur-angsur, berulang-ulang, bahkan rutin akan menjadikan atau menciptakan sebuah kebudayaan baru yang lama kelamaan akan dijadikan sebagai identitas masyarakatnya. Maka dari itu dapat dilihat bahwa setiap kelompok etnik memiliki kebudayaan yang berbeda tetapi saling menghargai satu sama lain. 

Dear me,


Assalamu'alaikum.Wr.Wb.
Haloo temen-temen.. apa kabar kalian semua? kenalin ya saya Dhesy Arbasari Purwadewi, lebih angkrabnya dipanggil Dhesy. Saya salah satu mahasiswa baru tahun 2014 di Universitas Airlangga, Surabaya, saya di Fakultas Ilmu Budaya tepatnya di program studi/departemen Sastra Indonesia. Tujuan saya kuliah disini adalah menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. apalagi UNAIR adalah PTN favorit saya sejak dulu, sejak awal masuk ke dunia pendidikan terutama sejak SMA, saya mulai tertarik untuk berkuliah di Surabaya tepatnya di Universitas Airlangga. 

Mungkin anda bertanya-tanya kenapa saya memilih Fakultas Ilmu Budaya UNAIR departemen Sastra Indonesia. salah satu alasan mengapa saya memilih itu adalah karena sejak SD saya sudah menyukai hal-hal yang berhubungan dengan tulis menulis. ya mungkin masih terlalu amburadul bagaimana cara menulis yang baik dan benar, maka dari itu aku memilih kuliah di bagian sastra indonesia agar bisa memperbaikinya. dulu sejak SD saya mempunyai cita-cita sebagai seorang pembuat novel, ingin  sekali saya menciptakan karya tulis dalam bentuk novel.

Tujuan saya 5 tahun kedepan adalah memberikan kebanggaan dengan nama yang baik kepada almamater tercinta. Selain itu saya ingin memberikan sebuah pengabdian kepada masyarakat yang membutuhkan. Saya ingin memperbaiki pandangan masyarakat tentang sastra dan budaya Indonesia yang semakin hari semakin tergusur karena adanya budaya asing yang mulai merambah ke hati para masyarakat Indonesia. memang tidak mudah jika berhadapan dengan masyarakat apalagi mengubah dasar pemikiran atau mainset mereka. perlu usaha keras dan sabar untuk pelan-pelan mengajak masyarakat agar mengerti tentang bangsa ini. Pemikiran saya sekarang adalah saya harus belajar semaksimal mungkin untuk memahami masyarakat dan bagaimana cara memperbaiki bahasa saya dengan benar, setelah itu saya akan mengabdi kepada masyarakat sekitar. Dan sama seperti jargon yang ada di Universitas Airlangga yaitu Excellence with morality, sekarang saya mulai untuk lebih memahami bahwa sehebat apapun kita sesukses apapun kita, itu semua harus dibarengi dengan moral dan sikap yang baik. tidak semua orang yang sukses itu bisa berperilaku baik, berhati nurani, jujur, bertanggung jawab. banyak disekitar kita orang-orang sukses tapi menyalahgunakan sesuatu untuk keperluan dirinya sendiri. apa pantas orang seperti itu untuk terus bergerak memajukan negara ini? tentu saja tidak. Dan tentunya saya ingin memperbaiki dan ikut membantu untuk menjada budaya yang ada di Indonesia.

Cita-cita yang saya impikan sekarang adalah menjadi dosen, tetapi disamping itu aku juga berminat untuk mempunyai usaha sampingan menerbitkan sebuah karya novel. Alasan saya memilih untuk bercita-cita menjadi dosen adalah karena dari dulupun setiap ada festival karnaval di TK ataupun SD aku lebih suka berdandan sebagai seorang guru. dan sekarang saya ingin mempertinggi keinginan saya itu untuk menjadi seorang dosen. bukan jabatan yang saya cari, tapi sebuah cara untuk membagikan ilmu saya kepada calon mahasiswa saya kelak. saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak bermalas-malasan mengerjakan tugas kuliah yang sudah menanti. karena kuliah bukan merupakan ajang untuk bersantai-santai yang biasa akrab disebut "kupu-kupu" yaitu kuliah pulang kuliah pulang atau "kunang-kunang" yaitu kuliah nangkring. Di perkuliahan, mahasiswa diajak untuk menggali kemampuan diri untuk mencapai sebuah prestasi sesuai dengan kemampuan masing-masing. 
Banyak anak-anak jaman sekarang memandang sebelah mata tentang jurusan sastra indonesia, pasti bingung mau jadi apa nanti? semua itu tidak menutup kemungkin untuk mahasiswa sastra indonesia mencapai cita-cita yang diinginkan. apalagi sastra indonesia masuk kedalam fakultas ilmu budaya. Dan itu berarti semua manusia akan kembali ke dunia masyarakat atau budaya yang ada disekitarnya. apapun pekerjaannya itu semua tergantung orang yang menjalankannnya. Satu pesan dari saya, jangan hanya melihat hal-hal yang abstrak didalam pemikiran orang lain, gali lah pemikiran yang nyata secara dalam-dalam agar mampu menciptakan sebuah generasi baru yang mampu membangkitkan semangat dalam menjalankan apapun yang bernilai positif. tidak ada kata salah apabila kita melakukan dengan hati ikhlas,jujur,dan bertanggung jawab. hanya butuh kemandirian dan keberanian agar bisa menjadikan seseorang berani untuk menghadapi artinya sebuah kehidupan.

Kesimpulannya, tetaplah menjadi diri sendiri, jangan mudah terpengaruh hal-hal yang tidak bernilai kebaikan. jati diri yang baik menjadi pedoman utama mencapai kesuksesan. tidak ada kata gagal untuk orang-orang yang mau berusaha. keep fight teman-teman.. Sekian dulu untuk ceritaku. terimakasih sudah membaca. Wassalamu'alaikum.Wr.Wb